Indonesia (Belum) Merdeka
Hari ini, tepat 63 tahun yang lalu, detik-detik proklamasi dibacakan oleh Soekarno-Hatta. Dengan dibacanya teks proklamasi menandakan Indonesia menjadi negara yang merdeka, bebas dari penjajahan dan intimidasi dari negara lain. Kemerdekaan yang diraih dengan keringat dan darah para pejuang murni merupakan hasil jerih payah bangsa Indonesia, bukan pemberiaan dari negara lain.
Kini, setelah 63 tahun, ternyata kemerdekaan yang didengungkan dengan suara lantang dan keras terasa tidak bermakna. Bangsa Indonesia terjebak kepada euforia kemerdekaan dan lupa mengisinya. Bangsa Indonesia hanya merdeka di mulut saja yaitu saat berteriak-teriak merdeka saja, tidak di hatinya. Sebagian besar rakyat Indonesia belum merdeka.
Kita bisa menyaksikan masih banyak dari kita belum mendapatkan penghidupan yang layak. Masih banyak dari kita belum merasakan pendidikan yang dasar sekalipun. Masih banyak daerah-daerah kumuh dan terbelakang. Tidak bisa menikmati aliran listrik. Masih banyak anak-anak terlantar di perempatan jalan dan lampu merah.
Itulah realita yang ada di negeri ini. Kemerdekaan yang direbut dengan susah payah dari bangsa penjajah belum bisa dirasakan oleh semua rakyat Indonesia. Artinya Indonesia dan Rakyat Indonesia belum merdeka.
Artikel Terkait
If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.












apapunyg terjadi, Panda tetep cinta Indonesia!!
Indonesia (sudah) MERDEKA!!!!!
Pun yang sudah mengecam pendidikan “tinggi” juga “senang dijajah”. Ini tercermin nyata pada dunia pendidikan kita, especially, SBI. SBI (Sekolah Berbasis Internasional), semua pengajar banyak mengartikannya sekolah dengan menggunakan enlang sebagai pengantar. Bukannya internasional dikaitkan dengan kemajuan peralatan, terkininya materi yang disampaikan dan tidak hanya teoritis saja, serta penunjang2 fasilitas lain yang nota bene setara dengan yang dipakai dan disampaikan di level internasional. Namun kenyataannya, tidak di sekolah bahkan tingkat universitas, menanggapi SBI dengan menggunakan b. inggris sebagai pengantarnya. Pertanyaan saya, seberapa kompeten kah anak didik kita untuk bisa menerima materi dari guru yang disampaikan dalam bahasa Inggris? Apakah hasil pendidikan yang selama ini disampaikan dengan menggunakan bahasa nasional sudah mampu menyetarakan posisi pendidikan nasional di tingkat internasional. Tengoklah peringkat Human Development Index kita. Setinggi itukah posisi kita. Apa yang diharapkan dalam pembelajaran dengan menggunakan bahasa Inggris, menganggap sama dengan internasional? Merasa keren? halaaah Bukankah akan makin memperbodoh anak didik sendiri? Negara Jepang, tidak pernah merasa bingung akan kurang baiknya penguasaan bahasa Inggris mereka (Ini terbukti saat saya mengikuti kuliah jarak jauh, e-learning dari Jepang, dosen secara langsung menyampaikan kuliah masih didampingi penerjemah). Namun IPTEK disana berkembang sangat pesat. Mengapa membodohi diri sendiri, mengapa menjajah bangsa sendiri? Sekolah Berbasis Internasional ataukah “SEKOLAH BABU INDONESIA” (af1). Semoga kita bisa memaknai kemerdekaan dengan sebenar2nya.